Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang yang kaya raya. Bicara dunia, pastilah beliau sudah sangat cukup. Bahkan untuk seluruh keturunannya pun, insyaallah terjamin. Yang selalu menarik bagi saya ketika bertemu orang yang demikian adalah mencari tahu pribadinya.
.
Karena orang KAYA RAYA itu ada 2 jenis.
Kaya karena maksiat.
Atau kaya karena takwa.
.
Karena memang hanya 2 cara itulah cara untuk menjadi kaya raya. Makin maksiat makin kaya, makin banyak keharaman yang dikumpulkan makin kaya, makin banyak pesugihannya makin kaya, makin rajin ke dukunnya makin kaya. Itu cara kaya yang pertama.
.
Dan cara kaya yang kedua, adalah pakai Takwa. Makin rajin ibadah, makin kaya. Makin banyak sedekah, makin kaya raya.
.
Rupanya Beliau punya satu kebiasaan sedari dulu, yaitu membeli dagangan pedagang kecil meski tidak membutuhkannya. Bahkan, ketika sudah kaya. Beliau punya karyawan yang khusus untuk keliling, nyari pedagang sapu lidi, pedagang tembikar, pedagang caping, pedagang kipas anyam, dan lain-lain sejenisnya. Yang biasanya jualannya jalan kaki atau naik sepeda. Penjualnya sudah tua. Beliau berniat untuk membagi rezekinya melalui itu.
.
Saya bertanya, kenapa tidak diberi sedekah? Hebatnya jawaban beliau.
"Mereka sedang ikhtiar, saya tidak ingin merendahkan ikhtiar mereka. Biarlah mereka mendapat 2 kesenangan.
Pertama, dagangannya laku.
Kedua, mereka jadi tidak putus asa, karena di jaman sekarang yang banyak mall dan toko modern, masih ada orang yang membeli dagangan mereka."
.
Dan setelah dibeli, barang itu akan dibagikan kembali oleh beliau ke siapa saja. Mendengar kebiasaan ini, saya yakin. Amalan inilah kunci kekayaannya.
.
Karena sebenarnya, entah beliau sadar atau tidak. Beliau tengah melakukan 3 amalan sekaligus.
1. Sedekah.
2. Membantu kesulitan saudara sesama.
3. Membahagiakan hati orang lain.
.
Sifat harta. Ia akan memberi kepuasan hanya jika ia dibagikan. Dan akan semakin memberikan rasa kurang, jika ia disimpan.
Selasa, 15 Oktober 2019
Cara sukses
Pepiling
Cepat atau lambat.. perpisahan itu pasti terjadi.
Entah siapa yang akan lebih dulu pergi.
Entah Aku.
Entah kamu.
Entah kita berdua.
Waktu bersama tak mungkin diciptakan kalau tidak untuk dinikmati.
Saling menyayangi.
Saling mengingatkan.
Saling menjaga.
Jangan sampai kebersamaan rusak karena ego.
Karena hal lain yang mungkin tidak lebih penting.
Karena ketidaksadaran, bahwa waktu bersama mungkin saja berakhir sewaktu-waktu.
Kadang dan seringkali terjadi, penyesalan hadir saat semuanya sudah berakhir.
Sebelum ada penyesalan, saat masih mungkin ada waktu.. ini saatnya memperbaiki segalanya.
Lebih mencintai orang-orang yang hadir di dalam kehidupan.
Lebih menghargai.
Lebih mementingkan.
Karena bukan sebuah kebetulan Aku dan kamu dipertemukan.
Dan bukan suatu kebetulan juga, jika saatnya sudah tiba Aku dan Kamu dipisahkan..