Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku
.
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
.
bahwa mobiku hanya titipan-Nya
.
bahwa rumahku hanya titipan-Nya
.
bahwa hartaku hanya titipan-Nya
.
bahwa putraku hanya titipan-Nya
.
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
.
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
.
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?
.
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
.
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
.
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
.
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
.
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
.
aku ingin lebih banyak harta,
.
ingin lebih banyak mobil,
.
lebih banyak rumah,
.
lebih banyak popularitas,
.
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
.
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
.
aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku, dan
.
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,
.
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
.
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”.
Kamis, 07 Juli 2016
MAKNA SEBUAH TITIPAN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar