Rabu, 07 September 2016

JENANG DAN JENENG

JENANG sebuah makanan berbahan baku beras dan/atau ketan, biasanya dimasak setelah sebelumnya dihaluskan dulu. Biasanya diberikan pada anak-anak balita, semacam bubur. Tapi orang dewasa boleh juga makan jika mau. Cukup mengenyangkan dan mampu untuk mengganjal perut.

Sedangkan jeneng bukanlah makanan, secara literari berarti nama. Budaya Jawa menempatkan dua hal ini bersanding. Jika orang hendak memberi nama pada anaknya, selalu dibuatkan perayaan dengan salah satu sajiannya berupa jenang. Begitu pula jika mau mengganti nama.

Kedua hal tersebut (jenang dan jeneng ) akan digunakan secara bersamaan juga ketika orang tua memberi nasehat pada anaknya ketika memilih kerja.

Mereka akan bertanya: ‘apakah mau cari jenang atau jeneng ?’ Tentu pertanyaan ini mengandung makna yang sangat dalam.
Biasanya untuk mereka yang sedang mulai meniti karier, orang tua akan menyarankan anaknya untuk mencari
jeneng dulu. Dengan begitu konsekuensinya adalah tidak akan mendapatkan jenang. Dengan lain kata, orang tersebut harus mau bersusah payah terlebih dahulu.

Jika memilih jenang, maka kadang orang tidak akan mendapat nama. Mungkin saja memang kenyang, tetapi hanya sebatas itu saja. Nama sebagai bagian penting untuk meniti karier mungkin tidak akan didapatkan. Kira-kira semacam itu maknanya. Sekali lagi ini tafsir.

Tidak ada komentar: